Kamis, 30 Mei 2013

ilmu bahan bangunan : Semen

A.   Pengertian Semen
Semen adalah suatu jenis bahan yang memiliki sifat adhesif dan kohesif yang memungkinkan melekatnya fragmen-fragmen mineral lain menjadi suatu massa yang padat. Pengertian ini dapat diterapkan untuk banyak jenis bahan semen yang biasa digunakan untuk konstruksi beton untuk bangunan. Secara kimia semen dicampur dengan air untuk dapat membentuk massa yang mengeras, semen semacam ini disebut semen hidrolis atau sering disebut juga semen portland.
Massa jenis semen yang diisyaratkan oleh ASTM adalah 3,15 gr/cm3, pada kenyataannya massa jenis semen yang diproduksi berkisar antara 3,03 gr/cm3 sampai 3,25 gr/cm3. Variasi ini akan berpengaruh proporsi campuran semen dalam campuran. Pengujian massa jenis ini dapat dilakukan menggunakan Le Chatelier Flask menurut standar ASTM C 348-97.
B.   Komposisi Bahan Baku Semen
·      Batu gamping
Batu gamping dengan kadar CaCO3 antara 80%-85% sangat baik sebagai bahan baku semen karena lebih mudah dig

iling untuk menjadi homogen.Batu gamping sebagai bahan baku utama semen harus memenuhi syarat kimiawi tertentu :
1. CaO = 49% - 55%
2. Al2O3 + Fe2O3 = 5% - 12%
3. SiO2 = 1% - 15%
4. MgO = < 5%
Faktor kejenuhan batu gamping yang baik yaitu lebih dari 1,02 dan tidak boleh kurang dari 0,66. Faktor kejenuhan (Fk) dihitung dengan memakai persamaan sebagai berikut :
Faktor kejenuhan (Fk) =
(% CaO) + 0,7 (% SiO2)
2,8(%SiO2)+1,2(%Al2O3)+0,65(%Fe2O3)
·      Batu lempung
Batu lempung yang akan dipakai sebagai bahan baku semen sebaiknya mempunyai kadar SiO2 lebih besar dari 70% dan Al2O3 lebih kecil dari 10%. Kedua unsur pembentuk batu lempung ini berfungsi sebai bahan pengoreksi. Jika kadar Fe2O3 dalam batu lempung lebih kecil dari 10% maka perlu memakai bahan pengoreksi yaitu berupa pasir besi.
·      Gipsum
Gipsum (CaSO4 2H2O) dipergunakan sebagai bahan tambahan (additve material) pada pembuatan semen portland dengan jumlah antara 4%-6%. Fungsi gipsum disini sebagai redater, yaitu bahan yang dapat mengendalikan waktu pengerasan semen dan juga untuk menentukan kualitas semen. Komposisi kimia gipsum untuk bahan baku semen portland disyaratkan sebagai berikut :
1. CaO = 30% - 35%
(sekitar 2/3 dari berat minimum SO3)
2. SO3 = 40% - 45%
3. H2O = 15% - 25%
4. Garam Mg dan Na = 0,1 %
5. Hilang pijar = 9%
6. Ukuran partikel = 95% (-14 mesh)
·      Pasir kuarsa
Dalam industri semen pasir kuarsa dipakai sebagai bahan koreksi bersama pasir besi, pyrite, bauxite, laterit atau kaolin. Komposisi kimia yang disyaratkan adalah sebagai berikut :
1. Kadar SiO2 = 95 % - 99 %
2. Kadar Al2O3 = 3 % - 4 %
3. Kadar Fe2O3 = 0 % - 1 %
·      Pasir besi
Pasir besi termasuk pada bahan korektif bersama pasirkuarsa. Untuk bahan baku semen portland komposisi pasir besi harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. SiO2 = 30% - 45%
2. Fe2O3 = 20% - 35%
3. TiO2 = 1% - 3%
4. CaO = 7% - 10%
5. H2O = 0% - 1%
C.   Jenis Semen
1. Semen Abu atau semen Portland adalah bubuk/bulk berwarna abu kebiru-biruan, dibentuk dari bahan utama batu kapur/gamping berkadar kalsium tinggi yang diolah dalam tanur yang bersuhu dan bertekanan tinggi Semen ini biasa digunakan sebagai perekat untuk memplester. Semen ini berdasarkan prosentase kandungan penyusunannya terdiri dari 5 tipe, yaitu tipe I sampai tipe V.
2. Semen Putih (gray cement) adalah semen yang lebih murni dari semen abu dan digunakan untuk pekerjaan penyelesaian (finishing), seperti sebagai filler atau pengisi. Semen jenis ini dibuat dari bahan utama kalsit (calcite) limestone murni.
3. Oil Well Cement atau semen sumur minyak adalah semen khusus yang digunakan dalam proses pengeboran minyak bumi atau gas alam, baik di darat maupun di lepas pantai.
4. Mixed & Fly Ash Cement adalah campuran semen abu dengan Pozzolan buatan (fly ash). Pozzolan buatan (fly ash) merupakan hasil sampingan dari pembakaran batubara yang mengandung amorphous silica, aluminium oksida, besi oksida dan oksida lainnya dalam variasi jumlah. Semen ini digunakan sebagai campuran untuk membuat beton, sehingga menjadi lebih keras.
Jenis semen SNI
Jenis semen
No.SNI
Nama
SNI 15-0129-2004
Semen portland putih
SNI 15-0302-2004
Semen portland pozolan / Portland Pozzolan Cement (PPC)
SNI 15-2049-2004
Semen portland / Ordinary Portland Cement (OPC)
SNI 15-3500-2004
Semen portland campur
SNI 15-3758-2004
Semen masonry
SNI 15-7064-2004
Semen portland komposit

Pabrik Semen Di Indonesia dengan mutu Internasional

·      PT.Semen Baturaja Persero (Semen Baturaja)
·      PT.Semen Padang (Semen Padang)
·      PT.Semen Bosowa (Semen Bosowa)
·      PT.Semen Andalas (Semen Andalas)
·      PT.Holcim Indonesia
·      PT.Semen Tonasa (Semen Tonasa)
·      PT.Semen Kupang (Semen Kupang)

D.  Proses produksi semen
Proses pembuatan semen dapat dibedakan menurut :
1.    Proses basah
Pada proses basah semua bahan baku yang ada dicampur dengan air, dihancurkan dan diuapkan kemudian dibakar dengan menggunakan bahan bakar minyak, bakar (bunker crude oil). Proses ini jarang digunakan karena masalah keterbatasan energi BBM.
2.    Proses kering
Pada proses kering digunakan teknik penggilingan dan blending kemudian dibakar dengan bahan bakar batubara. Proses ini meliputi lima tahap pengelolaan yaitu :
1. Proses pengeringan dan penggilingan bahan baku di rotary dryer dan roller meal.
2. Proses pencampuran (homogenizing raw meal) untuk mendapatkan campuran yang homogen.
3. Proses pembakaran raw meal untuk menghasilkan terak (clinker : bahan setengah jadi yang dibutuhkan untuk pembuatan semen).
4. Proses pendinginan terak.
5. Proses penggilingan akhir di mana clinker dan gypsum digiling dengan cement mill.
Dari proses pembuatan semen di atas akan terjadi penguapan karena pembakaran dengan suhu mencapai 900 derajat Celcius sehingga menghasilkan : residu (sisa) yang tak larut, sulfur trioksida, silika yang larut, besi dan alumunium oksida, oksida besi, kalsium, magnesium, alkali, fosfor, dan kapur bebas.
Secara singkat, proses dari pembuatan semen ini adalah semua bahan mentah dicampurkan, bahan-bahan mentah ini harus bebas debu. Debu yang dihasilkan dari bahan mentah ini akan ditangkap oleh penangkap debu, agar debu-debu tersebut tidak mencemari udara. Bahan-bahan ditampung. Setelah ditampung, bahan-bahan ini kemudian dimasukkan ke dalam suspensi preheater. Suspensi preheater ini berfungsi untuk memanaskan dengan cara menyemprotkan udara panas. Kemudian bahan-bahan dimasukkan ke dalam rotary kiln (oven besar yang berputar) dan dibakar pada suhu ± 1400ยบ C sehingga menghasilkan butiran-butiran kecil berwarna hitam yang disebut clinker (bahan setengah jadi). Clinker kemudian ditampung di dalam clinker silo. Dari clinker silo kemudian dimasuk ke dalam semen mill. Semen mill ini adalah suatu tempat dimana terjadi proses pencampuran dengan gipsum. Setelah dari semen mill, masuk ke dalam semen silo. Tahap akhir dari proses pembuatan semen ini adalah pengepakan, yang selanjutnya semen akan di distribusikan ke pasaran.
E.    DAMPAK INDUSTRI SEMEN TERHADAP LINGKUNGAN
Berdasarkan bahan baku dan bahan bakar yang digunakan serta proses produksi, industri semen menyebabkan dampak lingkungan sebagai berikut :
a) Lahan
Penurunan kualitas kesuburan tanah akibat penambangan tanah liat. Perubahan tata-guna tanah akibat kegiatan penebangan dan penyerapan lahan serta pembangunan fasilitas lainnya, menyebabkan penurunan kapasitas air tanah yang pada akhirnya akan berpengaruh pada kuantitas air sungai di sekitarnya. Hal ini akan menyebabkan keimbangan lingkungan setempat.
b) air
Kualitas air menurun akibat limbah cair dari pabrik dalam bentuk minyak dan sisa air dari kegiatan penambangan. Menimbulkan lahan kritis yang mudah terkena erosi dan pendangkalan dasar sungai, yang pada akhirnya akan menimbulkan banjir pada musim hujan.
Kuantitas air atau debit air menjadi berkurang karena hilangnya vegetasi pada suatu lahan akan mengakibatkan penyerapan air hujan oleh tanah di tempat itu berkurang, sehingga persediaan air tanah menipis. Sungai menjadi kering pada musim kemarau dan banjir pada musim hujan karena tanah tidak mampu lagi menyerap air.
c) Udara
Debu yang dihasilkan pada waktu pengadaan bahan baku dan selama proses pembakaran dan debu yang dihasilkan selama pengangkutan bahan baku ke pabrik dan bahan jadi ke luar pabrik, termasuk pengantongannya. Debu yang secara visual terlihat di kawasan pabrik dalam bentuk kabut dan kepulan debu menimbulkan pencemaran udara serius. Suhu udara di sekitar pabrik naik. Gas yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar minyak bumi dan batu bara, berupa gas CO, CO2, SO2 dan gas lainnya yang mengandung hidrokarbon dan belerang.
1.    Semen Portland
a.  Pengertian
Semen portland ialah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker yang terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidrolis dan gips sebagai bahan pembantu.Semen portland merupakan bahan ikat yang sangat penting dan banyak digunakan dalam pembangunan fisik bangunan.
Fungsi semen ialah untuk bereaksi dengan air sedangkan pasta semen berfungsi untuk merekatkan butir-butir agregat agar terjadi suatu massa yang homogen/padat, selain itu pasta semen juga untuk mengisi ronga-ronga diantara butir-butir agregat.
b.  Sejarah
Semen pertama kali ditemukan di zaman Kerajaan Romawi, tepatnya di Pozzuoli, dekat teluk Napoli, Italia. Bubuk itu lantas dinamai pozzuolana. Meski sempat populer di zamannya, nenek moyang semen made in Napoli ini tak berumur panjang. Menyusul runtuhnya Kerajaan Romawi, sekitar abad pertengahan (tahun 1100 - 1500 M) resep ramuan pozzuolana sempat menghilang dari peredaran. Sebelum semen yang kita kenal ditemukan, adukan perekat pada bangunan di buat dari kapur padam, pozolan dan agregat (campuran ini sering disebut semen alam).Campuran perekat tersebut tidaklah terlalu kuat, tapi tergantung pula pada sifat pozolan yang di gunakan sebagai bahan perekat. Pozolan adalah bahan yang terbentuk oleh debu dari letusan gunung berapi. Kapur hidrolis pertama kali ditemukan oleh seorang sarjana sipil yang bernama Jon Smeaton pada tahun 1756. Pada saat itu ia bertugas untuk merehabilitasi menara api yang terletak di Eddystone. Ia mencoba menggabungkan kapur padam dan tanah liat. Kemudian campuran itu ia bakar. Setelah mengeras, bongkahan campuran tersebut di tumbuk hingga menjadi tepung. Yang mana tepung tesebut dapat digunakan kembali dan dapat mengeras di dalam air. Mulai dari percobaan inilah sifat-sifat kapur hidrolis mulai di kenal. Namun perkembangan bahan yang ia temukan masihlah lambat dibandingkan campuran kapur padam biasa.

Jhon Smeaton
Pada tahun 1796 penemuan ini kembali dikembangkan oleh James Parker dari Norhfleed, Inggris. Ia mengembangkan campuran yang telah ditemukan oleh Jon, perbedaan dari campuran yang di temukan Jon, batu kapur yang digunakan James sebagai capuran adalah batu kapur yang mengandung lempung. Sedangkan teknik yang di gunakannya sama dengan yang di lakukan Jon.
Pada tahun 1800 produk yang dikembangkan James berkembang pesat, sehingga produknya di beri nama semen roman. Namun perkembangan tersebut hanya bertahan hingga tahun 1850. Di Inggris tukang batu yang bernama Joseph Aspdin dari kota Leeds, mencampurkan kapur padam dengan tanah liat, kemudian ia bentuk jadi gumpalan. Lalu di bakar dengan suhu kalsinasi (suhu dimana kapur dapat meleleh) dan setelah itu di tumbuk hingga menjadi tepung. Ketika bahan campuran tersebut mengeras, warna dari bahan berubah menjadi abu-abu. Warna tersebut menyerupai bebatuan di wilayah Portland, maka Joseph memberi nama hasil temuannya sebagai Semen Portland. Tanggal 21 october 1824, semen Portland Joseph mendapat hak paten dari raja Inggris. Walau pun demikian ia tetap merahasiakan bahan campuran yang ia temukan, dan ia tidak memproduksinya secara masal. Setelah ia wafat, pengembangan dan pemasaran secara masal semen ini di teruskan oleh anaknya yang bernama William Joseph di Jerman. Tahun 1877 jerman melakukan penilitian lebih lanjut terhadap semen Portland, hingga membentuk asosiasi pengusaha dan ahli semen. 30 tahun kemudian asosiasi tersebut menyebar hingga ke Inggris dan di Inggris Standard dari semen dibuat.
c.  Cara Pembuatan Semen Portland
Semen Portland dibuat dengan melalui beberapa langkah, sehingga sangat halus dan memiliki sifat adhesive maupun kohesif. Semen diperoleh dengan membakar secara bersamaan suatu campuran dari Calcereous (yang mengandung kalsium karbonat atau batu gamping) dan argillaceous (yang mengandung alumina) dengan perbandingan tertentu.
Secara mudahnya langkah-langkah pembuatannya:
1.    Kandungan semen portland berupa kapur, silica dan alumina, sebagai bahan dasar
2.    Ketiga bahan dasar tadi dicampur dan dibakar dengan suhu 1550°C dan menjadi klinker
3.    Kemudian dikeluarkan, didinginkan dan dihaluskan sampai halus seperti bubuk
4.    Biasanya ditambah gips atau kalsium sulfat (CaSO­4) kira-kira 2 sampai 4 persen sebagai bahan pengontrol waktu pengikatan
5.    Kemudian dimasukkan kedalam kantong dengan berat masing-masing kantong 40 Kg atau 50 Kg untuk segera dipasarkan.
d.  Sifat-Sifat Semen Portland
·      susunan kimia
OKSIDA
PERSEN
Kapur (CaO)
60 – 65
Silika (SiO2)
17 – 25
Alumina (Al2O3)
3 – 8
Besi (Fe2O3)
0,5 – 6
Magnesium (MgO)
0,5 – 4
Sulfur (SO3)
1 – 2
Soda/Potash (Ma2O + 2O)
0,5 – 1
Walaupun komplek, namun pada dasarnya dapat disebutkan 4 senyawa yang paling penting keempat senyawa tersebut ialah :
Trikalsium silikat (C3S) atau 3CaO.SiO2
Dikalsium silikat (C2S) atau 2CaO.SiO2
Trikalsium aluminat (C3A) atau 3CaO.Al2O3
Tetrakalsium aluminofert (C4AF) atau 4CaO.Al2O3.Fe2O3.
1)  hidrasi semen
Proses Hidrasi berlangsung bilamana semen bersentuhan air dengan arah dari luar ke dalam, maksudnya hasil hidrasi mengendap dibagian luar dan inti semen yang belum terhidrasi di bagian dalam secara bertahap terhidrasi sehingga volumenya mengecil. Proses permulaan Hidrasi tersebut berlangsung lambat, antara 2-5 jam yang disebut (periode induksi atau aktif) sebelum mengalami percepatan setelah kulit permukaan pecah. Pada tahap hidrasi berikutnya, pasta semen menjadi gel (butirannya sangat halus hasil hidrasi, memiliki luas permukaan yang amat besar)
2)  kekuatan pasta semen dan jumlah air yang dipakai
Kekuatan pasta semen yang telah mengeras tergantung pada jumlah air yang dipakai waktu proses Hidrasi berlangsung. Pada dasarnya jumlah air yang diperlukan oleh proses hidrasi hanya kira-kira 25 persen dari berat semennya, penambahan jumlah air akan mengurangi kekuatan setelah mengeras. Akan tetapi, kelebihan air (pelumas) tersebut juga akan mengakibatkan pasta berpori lebih banyak.
3)  sifat fisik semen
Semen portland yang dipakai untuk beton harus mempunyai kualitas tertentu yang telah ditetapkan agar dapat berfungsi secara efektif, pemeriksaan secara berkala perlu dilakukan baik yang masih berbentuk bubuk kering maupun pasta semen yang sudah keras, juga betonnya yang dibuat dari semen tersebut.ada sifat-sifat semen yang penting, yaitu;
a)  kehalusan butiran
Reaksi antara semen dan air dimulai dari permukaan butir-butir semen, sehingga semakin luas permukaan butir-butir semen (dari berat semen yang sama) maka makin cepat proses hidrasinya. Secara umum, semen yang berbutir halus meningkatkan kohesi beton segar (fresh concrete) dan dapat pula mengurangi bleeding, akan tetapi menambah kecenderungan beton untuk menyusut lebih banyak dan mempermudah terjadinya retak susut.
b)  Waktu ikatan
Semen jika dicampur dengan air membentuk gel yang secara bertahap menjadi kurang plastis, dan akhirnya menjadi keras. Pada proses ini tahap pertama dicapai ketika pasta semen cukup kaku untuk menahan suatu tekanan. Waktu untuk mencapai tahap ini disebut waktu ikatan. Waktu ikatan terbagi 2 yaitu;
a.    Waktu ikatan awal ialah waktu dari saat pencampuran semen dan air sampai saat kehilangan sifat keplastisannya.
b.    Waktu ikatan akhir ialah waktu mencapai pastanya menjadi masa yang keras.
Pada semen portland biasa, waktu ikatan awal tidak boleh kurang dari 60 menit dan waktu ikatan akhir tidak boleh lebih dari 480 menit (8 jam)
e.Jenis-Jenis Semen Portland
Perbedaan komposisi kimia semen yang dilakukan dengan cara mengubah persentase 4 komponen utama semen dapat menghasilkan beberapa jenis semen sesuai dengan tujuan pemakaiannya.Sesuai dengan tujuan pemakaiannya, semen portland di Indonesia dibagi menjadi 5 jenis, yaitu:
a.    Jenis I  : Untuk konstruksi pada umumnya, dimana tidak diminta persyaratan khusus
  seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis sebelumnya.
b.    Jenis II : Unutk konstruksi umumnya terutama sekali bila disyaratkan agak tahan
               terhadap sulfat dan panas hidrasi yang sedang.
c.    Jenis III : Untuk konstruksi-konstruksi yang menuntut persyaratan kekuatan awal tinggi.
d.    Jenis IV : Unutk konstruksi-konstruksi yang persyaratannya panas hidrasi yang rendah.
e.    Jenis V : Unutk konstruksi-konstruksi yang menuntut persyaratan sangat tahan
               terhadap sulfat.
f. Sifat Pozzolan
Menurut Neville (1998), sifat pozzolan adalah sifat yang dimiliki bahan-bahan yang mengandung senyawa silika dan alumina. Sebenarnya bahan tersebut tidak memiliki sifat seperti semen. Namun apabila bahan tersebut digiling hingga halus dan dicampur dengan klinker di finish mill untuk membentuk semen dan kemudian semen tersebut bereaksi dengan air maka akan membentuk senyawa CSH dan CAH. Sehingga bahan pozzolan tersebut akan mempunyai sifat seperti semen. Reaksinya yaitu senyawa silika dan alumina akan mengikat senyawa Ca(OH)2 untuk membentuk senyawa CSH dan CAH :
C3S + H2O ==> CSH dan Ca(OH)2
C2S + H2O ==> CSH dan Ca(OH)2
Ca(OH)2 + H2O + SiO2 ==> CSH
Ca(OH)2 + H2O + Al2O3 ==> CAH
Bahan pozzolan terbagi menjadi 2 yaitu pozzolan alam dan pozzolan buatan. Bahan pozzolan alam contohnya yaitu trass, sedangkan bahan pozzolan buatan contohnya yaitu fly ash.
g.    Persyaratan Semen Portland
Semen portland standar harus memenuhi persyaratan kimia maupun fisika, hal tersebut dapat dijabarkan dalam bentuk tabel, seperti:
PERSYARATAN KIMIA SEMEN PORTLAND
URAIAN
JENIS SEMEN PORTLAND
I
II
III
IV
V
-          Magnesium Oksida
Mgo Maks. % Berat
-          Belerang Trioksida,
So3 Maks. %Berat:
a.    Bila C3 A 8%
b.    Bila C3 A 8%
-          Hilang Pijar Maks. % Berat
-          Bagian Tidak Larut Maks. %Berat
-          Alkali Sebagai Nao2, Maks. % Berat *)
-          Trikalsium Silikat, C3s, Maks. % Berat **)
-          Dikalsium Siliat C2s, Mn. % Berat **
-          Tetrakalsium
-          Aluminat, C3a, Ma. % Berat **)
-          Tetrakalsium Aluminoferit Ditambah 2x Trikalsium Aluminat (C4AF + 2C3AF) atau kadar larutan padat (C4AF + C2AF), maks. % berat **)
-          Jumlah Trikalsium Silikat dan Trikalsium Aluminat (C3S + C3A), maks. % berat
     5,0
    3,0
    3,5
    3,0
    1,5
    0,6
      -
      -
      -
      -
      -
5,0
3,0
-
3,0
1,5
0,6
-
-
8
-
58
      5,0
    3,5
    4,5
    3,0
    1,5
    0,6
      -
      -
    15
      -
      -
   
      35
     45
     7
      -
      -
     5,0
    2,3
     -
    3,0
   1,5
    0,6
      -
      -
     5
    20
     -
Persyaratan fisika semen portland
URAIAN
JENIS SEMEN PORTLAND
I
II
III
IV
V
-          Kehalusan sisa diatas ayakan 0,09mm maks. % berat dengan alat Blaine, luas permukaan tiap satuan berat semen, min m2/g
-          Waktu pengikatan dengan alat Vicat: *)
awal, min. Menit
akhir, min. Jam
-          Waktu pengikatan dengan alat Gillmore: *)
awal, min.
Menit akhir, min. Jam
-          Kekekalan :
Pemuaian dalam Otoklaf % maks
-          Kekuatan tekan, min. Kgf/cm2 untuk umur uji:
1 hari
1 + 2 hari
1 + 6 hari
1 + 27 hari
-          Pengkatan semen (false set) penetrasi akhir, % maks
-          Panas Hidrasi, maks. Kal/g   7hari                                         28 hari
-          Pemuaian karena sulfat **) 14 hari, % maks.
    10
   280
    60
     8
   10
   0,8
      -
    12
   200
      -
    50
      -
      -
      -
    10
   280
    60
     8
   10
   0,8
      -
   100
   175
      -
    50
    70
    80
      -
    10
   280
    60
     8
   10
   0,8
   125
    250
      -
      -
    50
      -
      -
      -
    10
   280
    60
     8
   10
   0,8
      -
      -
    70
   175
    50
    60
     70
      -
    10
   280
    60
     8
   10
   0,8
      -
    85
   150
   210
    50
      -
      -
   0,045
Keterangan:
*)         bila tidak ditentukan, maka yang berlaku adalah penentuan memakai alat Vicat.
**)        bila syarat ini diminta, maka syarat C4AE + C2F tidak perlu dilakukan
2.    Semen Portland Pozolan
Semen portland pozolan adalah suatu semen hidrolis yang terdiri dari campuran yang homogen antara semen Portland dengan pozolan halus, yang di produksi dengan menggiling klinker semen portland dan pozolan bersama-sama, atau mencampur secara merata bubuk semen portland dengan bubuk pozolan, atau gabungan antara menggiling dan mencampur, dimana kadar pozolan 6 % sampai dengan 40 % massa semen portland pozolan.
Pozolan adalah bahan yang mengandung silika atau senyawanya dan alumina, yang tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen, akan tetapi dalam bentuknya yang halus dan dengan adanya air, senyawa tersebut akan bereaksi secara kimia dengan kalsium hidroksida pada suhu kamar membentuk senyawa yang mempunyai sifat seperti semen.
1.    Jenis dan penggunaan
1)    Jenis IP-U yaitu semen portland pozolan yang dapat dipergunakan untuk semua tujuan pembuatan adukan beton.
2)    Jenis IP-K yaitu semen portland pozolan yang dapat dipergunakan untuk semua tujuan pembuatan adukan beton, semen untuk tahan sulfat sedang dan panas hidrasi sedang.
3)    Jenis P-U yaitu semen portland pozolan yang dapat dipergunakan untuk pembuatan beton dimana tidak disyaratkan kekuatan awal yang tinggi.
4)    Jenis P-K yaitu semen porland pozolan yang dapat dipergunakan untuk pembuatan beton dimana tidak disyaratkan kekuatan awal yang tinggi, serta untuk tahan sulfat sedang dan panas hidrasi rendah
2.    Syarat mutu
1)    Persyaratan kimia dan fisika semen portland pozolan jenis IP-U dan IP-K harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  
2)  Syarat kimia dan fisika semen portland pozolan jenis P-U dan P-K harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

 3.    Cara uji
·   Uji kimia
Pengujian magnesium oksida, sulfur trioksida dan hilang pijar.
·   Uji fisika
Pengujian kehalusan dengan alat blaine atau turbidimeter, pengikatan dengan jarum vicat, kekekalan bentuk dengan autoclave, kuat tekan, panas hidrasi dan kandungan udara mortar.
·   Syarat lulus uji
Semen portland pozolan dinyatakan tidak lulus uji apabila:
a) Semen gagal memenuhi salah satu syarat mutu seperti yang dicantumkan pada butir 5.
b) Semen gagal memenuhi salah satu syarat mutu seperti yang dicantumkan pada butir 5 setelah dilakukan uji ulang.
c) Kekurangan berat lebih dari 2% dari berat yang dicantumkan, baik dalam setiap kemasan maupun berat rata-rata dari setiap kemasan maupun berat rata-rata dari setiap
pengiriman yang diwakili oleh penimbangan 50 kemasan yang diambil secara acak.
CATATAN : Uji ulang dapat dilakukan pada sisa semen didalam penyimpanan pada silo yang akan dikirim selama periode lebih dari 6 bulan.
4.    Pengemasan
Semen portland pozolan dapat diperdagangkan dalam bentuk curah maupun kemasan.Apabila tidak ada ketentuan lain, semen dikemas dalam kantong dengan berat netto 40 kg untuk setiap kantong. Untuk semen curah, kontainer atau wadah harus kedap air yang dibuat sedemikian rupa sehingga bagian dalam mudah diperiksa. Kontainer atau wadah harus dilengkapi dengan alat penyalur untuk mengeluarkan semen.
5.    Syarat penandaan
Pada kemasan sekurang-kurangnya dicantumkan nama:
a) Tulisan ”Semen portland pozolan”.
b) Kode dan jenis.
c) Merk/tanda dagang.
d) Nama perusahaan.
e) Berat netto.
Untuk semen portland pozolan curah, penandaan dicantumkan pada dokumen pengiriman.
6.    Penyimpanan dan transportasi
a) Semen ketika disimpan maupun di transportasikan harus dijaga sedemikian rupa
sehingga mudah untuk dilakukan inspeksi dan identifikasi.
b) Semen curah disimpan dalam bangunan/penyimpanan yang kedap terhadap cuaca
sehingga akan melindungi semen dari kelembaban dan menghindari terjadinya
penggumpalan semen pada saat penyimpanan dan transportasi.
c) Penyimpanan maupun transportasi semen dalam kantong dilakukan sedemikian rupa
sehingga terhindar dari pengaruh cuaca.
3.    Semen Pozolan Kapur
a.  Pengertian
Semen prozolan kapur adalah suatu bahan pengikat hidrolis yang dibuat dengan Menggiling bersama suatu bahan pozolan dengan kapur padam atau yang dibuat dengan mengaduk secara cermat dan merata suatu bahan pozolan halus dengan kapur padam.
Kapur pardam : adalah hasil pemadaman kapur- tohor( kapur tohor adalah kapur tohor yang telah bersenyawa dengan air dan membentuk suatu hidrat ) .
b.  Tujuan penggunaan
Semen pozolan kapur dapat dipakai untuk adukan,plesteran dan beton dengan mutu setinggi-tingginya.
c.  Cara pembuatan
1.  Bahan baku
a.    Pozolan
·      bahan pozolan yang dipakai dalam pembuatan semen pozolan kapur dapat berupa bahan pozolan alam seperti tras atau bahan pozolan buatan seperti semen merah.
·      Bahan pozolan yang dipakai dalam pembuatan semen pozolan kapur harus memenuhi syarat –syarat peraturan trass dan semen merah Indonesia NI-20
b.  Kapur padam
·      Kapur padam yang dipakai dalam pembuatan semen pozolan kapur harus memenuhi syarat –syarat Peraturan kapur sebagai bahan bangunan Indonesia (NI-7)
·      Dalam pembuatan semen pozolan kapur dapat ditambahkan bahan-bahan lain sepanjang tidak mengurangi mutunya
2.  Cara pembuatan
Semen pozolan kapur harus dibuat dengan mengiling atau mengaduk  bahan pozolan halus atau kapur padam.perbandingan bahan-bahan baku dalam pembuatan semen pozolan kapur tergantung dari sifat masing-masing bahan bakunya.
d.    Syarat mutu
  
e.    Cara penyimpanan
semen pozolan kapur harus disimpan atau ditimbun didalam gudang yang tahan pengaruh cuaca dan terlindungi dari basah yang dapat mengakibatkan kerusakan mutu.
f.     Syarat penandaan
Jika semen pozolan kapur diperdagangkan dalam bungkusan,pembungkus harus diberikan tanda-tanda yang jelas,sehingga mudah terlihat oleh setiap orang,mengenai pabrik yang membuatnya,nama semen pozolan kapur,keterangan-keterangan tentang penggunaanya serta berat bersih dari isinya dalam satuan Kg.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar